What Time's It's ?

About Me

Minerva


Playlist Here !!!

Way Cool Quotes

Flyff Chinese Sheep
Tampilkan postingan dengan label Profil Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Tokoh. Tampilkan semua postingan

5 Nov 2012

Sapardi Djoko Damono



Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 70 tahun) adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.

Riwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Ia tidak saja menulis puisi, namun juga cerita pendek. Selain itu, ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
Kumpulan Puisi/Prosa

  •          "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
  •          "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
  •          "Mata Pisau" (1974)
  •          "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
  •          "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
  •          "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
  •          "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
  •          "Perahu Kertas" (1983)
  •          "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
  •         "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
  •          "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
  •          "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
  •          "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
  •          "Hujan Bulan Juni" (1994)
  •          "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
  •          "Arloji" (1998)
  •          "Ayat-ayat Api" (2000)
  •          "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
  •          "Mata Jendela" (2002)
  •          "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
  •          "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
  •          "Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
  •          "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
  •          "Kolam" (2009; kumpulan puisi)


Sapardi juga menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia.

Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti" (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Beberapa tahun kemudian lahirlah album "Hujan Bulan Juni" (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Album "Hujan Dalam Komposisi" menyusul dirilis pada tahun 1996 dari komunitas yang sama.
Sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan, album "Gadis Kecil" (2006) diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana dirilis, dilanjutkan oleh album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD serta karya beberapa penyair lain.

Buku

  •          "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
  •          "Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan"
  •          "Dimensi Mistik dalam Islam" (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel "Mystical Dimension of Islam", salah seorang penulis.
  •          Pustaka Firdaus
  •          "Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia" (2004), salah seorang penulis.
  •          "Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas" (1978).
  •          "Politik ideologi dan sastra hibrida" (1999).
  •          "Pegangan Penelitian Sastra Bandingan" (2005).
  •          "Babad Tanah Jawi" (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).



Read more...
separador

23 Okt 2012

Dea Anugrah

Seperti yang sudah dijanjikan, kali ini saya akan memposting profil singkat Dea Anugrah :)

Penggemar berat astrologi dan Ellen Page. Sesekali mempublikasikan tulisan-tulisannya di berbagai antologi serta sejumlah koran, majalah, zine, dan jurnal sastra. Kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Bergiat di Komunitas Rawarawa dan forum diskusi buku Daftar Pustaka. Menulis karena gagal menjadi pemain sepakbola ---------> tertulis di blog pribadi Dea Anugrah.





Dea Anugrah bersama sang kekasih, Saila Muti Rezcan :)


Pemuda berdarah Chinese ini, merupakan penyair muda yang dilahirkan di Pangkalpinang 27 Juni 1991. Anak pertama dari dua bersaudara ini menghabiskan masa kecilnya di tanah kelahirannya. Pernah bersekolah di SMAN 1 Sungailiat dan bergiat di Bengkel Sastra sekolah tersebut. Kemudian, sejak tahun 2008 melanjutkan pendidikannya ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas Filsafat (kalau tidak salah informasi, saat ini Dea sedang menyusun skripsi). Dea menulis puisi, cerpen dan esai dalam Bahasa Indonesia. 

Karya
  •          Penyair (itu) Bodoh (kumpulan puisi, 2009)
  •          Suara-Suara Nurani dan Kalbu (kumpulan puisi bersama, 2009)
  •          Sebilah Sayap Bidadari (kumpulan puisi bersama, 2010)
  •          Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian (kumpulan puisi bersama, 2010)
  •       Percakapan Lingua Franca (Temu Sastrawan III 2010)
  •       Beternak Penyair (2011)






Read more...
separador

14 Okt 2012

Sutan Takdir Alisjahbana

Sutan Takdir Alisjahbana lahir pada tanggal 11 Februari 1908, di Natal, Tapanuli Selatan. Setamat HKS Bandung (1928) dia ditempatkan di Palembang menjadi guru Schakelschool (sekolah sambungan). Kemudian pindah ke Balai Pustaka sebagai redaksi kepala(1930). Sambil bekerja (1937), Dia mengikuti kuliah di sekolah Hakim Tinggi Jakarta, tamat 1942.

Read more...
separador

2 Okt 2012

Soe Hok Gie


              Soe Hok Gie






                 Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
 
Read more...
separador

Translate

Categories

Followers